Pages

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Wednesday - 0 comments

HIDUP SESUAI PETUNJUK ALLAH

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.  (Maz. 119:11)
Selama ini Charlie Riggs disebut sebagai "pria di belakang Billy Graham". Hampir selama 40 tahun, Riggs menjadi direktur pelayanan konseling dan tindak lanjut u/ semua kebaktian kebangungan rohani oleh Billy Graham. Di dalam kelas-kelas pelatihan bagi para konselor, Charlie telah mengajar ribuan orang tentang prinsip-prinsip dasar bagaimana hidup bagi Kristus dan menceritakan iman mereka kepada orang lain.
 
Pada perayaan ulang tahun Charlie ke-90, banyak pujian terhadapnya menyebutkan kebiasaan menghafalkan ayat-ayat Alkitab yg telah dilakukannya seumur hidup. Tujuan Charlie bukan sekadar u/ mengenal isi Alkitab, tetapi juga u/ mengenal Kristus dan hidup menurut firman-Nya.
Charlie menaati Mazmur 119:9-11, "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. . . . Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." Dia menyamakan Alkitab dg "bandul pemberat" bagi hatinya. Seperti bandul yg membuat tali pengukur seorang tukang bangunan tetap tegak lurus dan tidak salah ukur, prinsip-prinsip ilahi ini tidak pernah berubah, bagaimanapun keadaannya. Ia berusaha u/ menyelaraskan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya sendiri dg firman Allah, bukan sebaliknya.

Hidup Charlie Riggs begitu teguh dan kokoh di belakang layar. Teladannya menantang kita hari ini u/ menyimpan firman Allah di dalam hati kita dan membiarkan firman itu membimbing hidup kita. Charlie menunjukkan apa artinya hidup sesuai petunjuk Allah.
Alkitab ada u/ dipahami dg pikiran, disimpan dalam hati, dinyatakan dalam hidup, dan ditaburkan di tengah dunia.

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Sunday - 0 comments

PERKATAAN TERAKHIR

Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku  -  kiranya hal itu jangan ditanggungkan ke atas mereka.  (2 Tim. 4:16)

Beberapa hari menjelang kematiannya, Gandhi menulis, "Aku begitu dilingkupi oleh kegelapan; aku memohon untuk datangnya terang."
 
Bandingkan dg perkataan penginjil D. L. Moody, "Inilah kemenanganku; inilah hari penobatanku! Sungguh mulia!"
 
Dalam kedua contoh ini, perkataan mereka yg terakhir adalah ungkapan yg penting tentang pandangan mereka atas kehidupan, kematian, dan segala sesuatu yg terjadi dalam masa hidup mereka.

Rasul Paulus dalam perkataan terakhirnya, alih-alih berbicara mengenai apa yg telah dilakukannya dalam hidup dan pelayanan, ia berbicara mengenai bagaimana ia memandang orang lain. Dalam perkataan terakhirnya, Paulus berbicara mengenai orang-orang yg telah mengecewakan dirinya.
 
Sehubungan dg orang yg telah merugikan dirinya dg menentang pelayanannya, Paulus memercayakan kepada Tuhan u/ berurusan dg orang itu. Dan bagi mereka yg telah mengabaikannya sewaktu dirinya dipenjara, Paulus meminta kepada yg lain u/ mengampuni mereka: "Pada waktu pembelaanku yg pertama tidak seorangpun yg membantu aku, semuanya meninggalkan aku -  kiranya hal itu jangan ditanggungkan ke atas mereka" (2 Tim. 4:16). Perkataan terakhirnya menyatakan belas kasih dan kebaikan ketimbang kata-kata kasar dan nafsu untuk membalas.

Bagaimana dg kita? Akankah perkataan terakhir kita memperlihatkan kasih Kristus atau malah kepahitan yg terpancar dari sebuah hati yg terluka? Jawaban kita atas pertanyaan ini sesungguhnya terpancar dalam kata-kata yg kita ucapkan hari ini.

Perkataan terakhir seperti apa yg akan menjadi warisan Anda?

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Friday - 0 comments

HAL-HAL KECIL

Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.  (Yakobus 3:5)

Seekor nyamuk adalah serangga yang sangat kecil, tetapi mempunyai potensi untuk membawa kerusakan yang hebat. Seorang teman bercerita bahwa di masa kecilnya, ia pernah mengalami gigitan nyamuk pada kedua lututnya. Gatal di sekitar gigitan tersebut membuat ia tidak tahan untuk menggaruk sedemikian rupa, hingga menyebabkan luka dan terinfeksi. Selama lebih dari satu bulan, berulang kali ia harus disuntik penisilin dan luka pada lututnya harus dibuka dan dibersihkan dua kali sehari untuk menghilangkan infeksinya. Perawatan ini sangat menyakitkan dan juga menakutkan untuk anak berumur 10 tahun. Sampai saat ini, luka bekas suntikan - suntikan itu masih terlihat pada kedua lututnya. Dan semua ini hanya disebabkan oleh sesuatu sekecil nyamuk.

Yakobus, saudara (tiri) Tuhan Yesus, mengingatkan kita akan satu hal kecil lain yang juga dapat sangat menghancurkan. Ia berkata bahwa meskipun lidah itu kecil, tetapi lidah dapat memegahkan perkara-perkara besar. Hal itu seperti percikan api kecil yang dapat membakar hutan yang besar (3:5). 

Walaupun lidah itu kecil, kerusakan yang disebabkannya bukanlah sesuatu yang kecil. Perkataan seseorang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan atau justru menghancurkan orang lain dengan dampak yang jauh melebihi racun dari gigitan nyamuk.

Penting sekali bagi kita untuk menggunakan perkataan dengan penuh hikmat dan kehati-hatian. 

Pertimbangkan dengan baik kata-kata yang akan Anda ucapkan. Apakah perkataan itu akan diwarnai dengan berkat seperti obat atau amarah seperti racun?

Gigit lidah anda sendiri daripada membiarkan lidah itu melukai orang lain.
Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Wednesday - 0 comments

Kesetiaan Bapa

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!  (Ratapan 3:22-23)

Hudson Taylor, seorang hamba Tuhan sederhana yang melayani di Cina, telah menunjukkan kepercayaannya yang luar biasa pada kesetiaan Allah. Di dalam buku hariannya, ia menulis:
"Bapa surgawi kita adalah satu Pribadi yang sangat berpengalaman. Dia tahu benar bahwa anak-anak-Nya setiap pagi bangun dengan kebutuhan akan makanan. . . . Dia memelihara 3 juta orang Israel di padang belantara selama 40 tahun. Kita tidak berharap bahwa Allah akan mengirim 3 juta orang misionaris ke Cina, tetapi jika Dia melakukannya, Dia akan mempunyai banyak cara untuk memelihara mereka semua. . . . Yakinlah akan hal ini, pekerjaan Allah yang dilakukan dengan cara Allah tidak akan pernah kekurangan persediaan yang datang dari tangan-Nya."
 
Kita mungkin lemah dan penat, tetapi Bapa surgawi kita Mahakuasa. Perasaan kita mungkin berubah-ubah, tetapi Dia tidak akan pernah berubah. Bahkan ciptaan-Nya pun menjadi bukti dari kesetiaan-Nya. Oleh karena itu, kita dapat menyanyikan kata-kata berikut dari sebuah himne ciptaan Thomas Chisholm: "Matahari serta bintang dan bulan, menyaksikan kesetiaan Tuhan. Musim menuai dan musim apa pun, menyaksikan kasih setia-Mu."
 
Sungguh hal ini mengobarkan kembali hati kita untuk hidup bagi-Nya! Kekuatan kita untuk masa kini dan harapan untuk masa depan tidaklah didasarkan atas keteguhan daya tahan kita sendiri, tetapi pada kesetiaan Allah. Apa pun kebutuhan kita, kita dapat mengandalkan kesetiaan Bapa.

Mereka yang menyerahkan diri kepada Allah tidak pernah akan ditinggalkan oleh Allah.

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati ;)
Tuesday - 0 comments

Apakah Allah Peduli?

[Yesus] sangat takut dan gentar. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."  (Markus 14:33-34)

Seorang sahabat mengalami tiga orang terdekat-nya meninggal berturut-turut pada waktu yang berdekatan. Pengalaman dari dua kematian yang pertama tidak mempersiapkan-nya untuk yang ketiga. Tidak dapat berbuat banyak kecuali menangis.
 
Namun, ia merasa terhibur ketika mengingat saat-saat menghadapi kepedihan - Yesus memberi reaksi yang tidak jauh berbeda dengannya. Ia terhibur karena mengetahui bahwa Yesus pun menangis ketika sahabat-Nya, Lazarus, meninggal (Yoh. 11:32-36). Hal ini memberi petunjuk yang mengejutkan tentang bagaimana perasaan Allah terhadap rasa kehilangan akan orang-ornag terdekat-nya, yang tentunya Allah kasihi juga.
 
Di taman pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus tidak berdoa, "Oh, Tuhan, Aku begitu bersyukur Engkau telah memilih-Ku untuk menderita atas nama-Mu." Tidak, Dia mengalami kesedihan, ketakutan, perasaan ditinggalkan, dan bahkan keputusasaan. Kitab Ibrani menyatakan bahwa Yesus memohon dengan "ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut" (5:7). Namun, Dia tidak diselamatkan dari maut.
 
Apakah berlebihan untuk berkata bahwa Yesus sendiri mengajukan pertanyaan yang menghantui kita: Apakah Allah peduli? Adakah arti lain dari seruan-Nya dalam mazmur yang kelam: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" (Mzm. 22:1; Mrk. 15:34).
Yesus bertahan di dalam penderitaan-Nya karena Dia tahu bahwa Bapa-Nya adalah Allah pengasih yang dapat dipercaya, bagaimanapun tampaknya keadaan yang ada. Dia mempertunjukkan iman yang mengandung jawaban jelas untuk pertanyaan "Apakah Allah peduli?" Jawabannya: Ya, Allah peduli!

Ketika tahu tangan Allah bekerja dalam segala hal, kita bisa menyerahkan segala hal dalam tangan Allah.

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Friday - 0 comments

BAHAYA KESUKSESAN

Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya.  (Ul. 8:11)

Alexandr Solzhenitsyn - seorang novelis peraih penghargaan Nobel Sastra, yg pernah dikirim ke camp pengasingan karena kritikannya yg pedas kepada pemerintahan Joseph Stalin, mengungkapkan bahwa ia belajar berdoa di sebuah kamp konsentrasi di Siberia saat ia tidak ada lagi harapan. Sebelum ia ditangkap .. ketika segala sesuatu berjalan baik-baik saja, ia jarang memikirkan tentang Allah.

Demikian halnya dg bangsa Israel. Mereka mempelajari kebiasaan u/ bergantung kpd Allah di tengah padang gurun Sinai, tempat yg tidak memberi mereka pilihan lain. Mereka membutuhkan campur tangan dari-Nya setiap hari hanya u/ urusan makan dan minum. Namun, ketika akhirnya mereka sampai di tepi sungai Yordan, mereka menghadapi pencobaan yg lebih berat u/ iman mereka (Setelah memasuki tanah yg penuh kelimpahan, apakah mereka akan segera melupakan Allah?)

Dikarenakan lama hidup di gurun, bangsa Israel tidak mengetahui banyak tentang godaan dari budaya-budaya lain. Musa lebih khawatir pada datangnya kelimpahan daripada kerasnya kehidupan di gurun  -  sensualitas yg menggoda, agama-agama yg eksotis, dan kekayaan yg gemerlap. Bangsa Israel dapat saja melupakan Allah dan memuji diri sendiri atas kesuksesan mereka (Ul. 8:11,17).

Ironis, saat kesuksesan membuat kita lebih sulit bergantung kepada Tuhan. Bangsa Israel terbukti menjadi kurang setia setelah mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Berulang kali mereka memalingkan hati kepada ilah-ilah lain.

Kita patut waspada terhadap godaan yg menyertai kesuksesan. Ada bahaya yg mematikan saat kita mendapat apa yg kita inginkan. 
Kesuksesan tanpa Allah jauh lebih menghancurkan daripada kegagalan terburuk sekalipun.

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Thursday - 0 comments

BERSUKACITALAH!

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!  (Maz. 100:1)

Mazmur 100 adalah salah satu nyanyian ucapan syukur teragung di dalam Alkitab. Mazmur ini memanggil kita untuk menyadari bahwa kita adalah kepunyaan Allah Pencipta kita (ay.3-4), dan membuat kita menaikkan pujian bagi Dia atas kebaikan, kemurahan, dan kebenaran-Nya (ay.5).
 
Baru-baru ini, saat membaca lagi Mazmur ini, saya tertegun oleh satu bagian yang menuliskan bagaimana mengungkapkan ucapan syukur kita secara nyata dan sukarela: "Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita" (ay.2). Yang seringkali terjadi adalah jemaat beribadah kepada Allah lebih dengan perasaan enggan daripada sukacita. Melakukan apa yang mereka pandang sebagai. tugas mereka, jauh dari bersukacita.

Oswald Chambers benar-benar menegur sikap mereka yang cenderung tidak mau bersyukur ketika ia berkata bahwa: Kehendak Allah adalah hal yang terindah, terbaik, dan paling membawa berkat yang dapat kita pahami, tetapi nyatanya sebagian dari kita berbicara tentang kehendak Allah dengan keluh kesah ... "Baiklah, saya anggap inilah kehendak Allah bagi saya" ... seakan-akan kehendak-Nya merupakan sesuatu yang paling mendatangkan bencana bagi kita. Kita menjadi orang-orang yang suka merengek secara rohani dan berkeluh-kesah tentang 'menderita oleh karena menjalani kehendak Allah.' Di manakah kuasa agung dan kedahsyatan dari Anak Allah dalam hal itu?

Ucapan syukur yang sejati lebih dari sekadar berterima kasih atas apa yang kita miliki. Sejatinya, ucapan syukur adalah sebuah sikap yang melebur sepenuhnya dalam hubungan kita dengan Tuhan sehingga kita akan melayani-Nya dengan gembira dan sukacita. 

Bagi orang Kristen, mengucap syukur bukanlah sekadar perayaan sehari, melainkan suatu gaya hidup.

Selamat malam, Tuhan Yesus memberkati :)
Wednesday - 0 comments

TUNAS ATAU AKAR?

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  (Mat. 13:6)

Dalam hidup sebatang pohon, salah satu kunci u/ bertahan hidup adalah dg mempunyai lebih banyak akar daripada tunas. Di dalam bukunya Oak: The Frame of Civilization (Pohon Oak: Kerangka Peradaban), penulis William Bryant Logan berkata, "Jika sebatang pohon memiliki banyak tunas dan sedikit akar, besar kemungkinan pohon itu terlalu lemah dalam menghadapi tekanan dan tidak hidup lama. . . . Namun, jika sebatang pohon memiliki banyak akar dan menumbuhkan tunas-tunasnya secara perlahan, pohon itu mungkin akan hidup lebih lama dan lebih tahan terhadap tekanan."

Manusia dan organisasi dapat berlaku seperti pohon. Kenaikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah hal yg menyenangkan, tetapi segala sesuatu yg bertunas lebih cepat dibandingkan tertanamnya akar akan menghasilkan sesuatu yg rapuh dan mudah patah, terjatuh, atau mati.

Yesus menggunakan analogi serupa dalam perumpamaan-Nya tentang seorang penabur. Orang yg mendengar firman dan menerimanya dengan sukacita seperti benih yg ditabur di atas tanah yg berbatu-batu; benih itu segera tumbuh, tetapi hanya bertahan dalam waktu singkat karena tidak mempunyai akar (Mat. 13:6,20-21).

Akar tidak terlihat mempesona, tetapi akar adalah sumber dari kekuatan kita. Jika akar kita dalam pengenalan akan Allah tertanam dengan dalam (Yer. 9:24) dan kehidupan kita tersembunyi di dalam Kristus (Kol. 3:3), kita akan kuat, tahan terhadap hama penyakit, dan lebih dapat bertahan hidup menghadapai beragam badai kesulitan.

Akar-akar yang kokoh dimiliki ketika kita berdasar pada firman Tuhan dan doa.
Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Tuesday - 0 comments

BAGAIMANA MEREKA AKAN TAHU?

Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.  (1 Yoh. 4:21)

Pernahkah Anda memerhatikan bahwa sebagian orang Kristen, dengan prilaku yg jelas-jelas tidak mencerminkan iman Kristen, tapi masih berusaha membuktikan dan meyakinkan orang bahwa mereka "ber-rohani"?

Tidak jarang kita temui jemaat yg secara terang-terangan mengkritik pemimpin pujian / tim penyembahan saat mereka tidak berhasil membawa jemaat "masuk ke hadirat Tuhan" .. atau bahkan mengkritik pengkhotbah karena cara berkotbah ataupun isi kotbahnya.

Ada juga jemaat yg cenderung berkelompok dan dengan ataupun tanpa mereka sadari menciptakan garis pemisah antara dua kelas sosial yg masing-masing anggotanya menolak untuk berbaur.
Sebagai orang percaya , seharusnya kita berpegang teguh pada kebenaran seperti yg tertulis dalam Alkitab. Meskipun pada contoh-contoh di atas, kebenaran tidak dilanggar secara frontal, namun perbuatan mereka sebagai pengikut Kristus jelas-jelas tidak menunjukkan kasih. Mereka lebih memilih untuk melindungi keinginannya sendiri daripada menyatakan kasih Yesus kepada dunia yg mengamati kita ini. 

1 Yoh. 4:7-21, mengingatkan kita bahwa kasih Allah seharusnya mengubah sikap hidup kita. Kasih-Nya, mencegah kita untuk mengambil tindakan yg menyakiti orang lain hanya karena kita tidak setuju dengan mereka.

Yesus berkata, "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh. 13:35). Pertanyaannya adalah apakah orang lain dapat menyaksikan bukti kasih Yesus melalui diri Anda? 

Hanya dengan sehati dan sepikir, gereja sanggup memberi pengaruh positif terhadap dunia.
Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)
Friday - 0 comments

Perhatikan Tingkah Laku Anda

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.  (Yohanes 3:30)

Seorang dosen musik dengan suara yang terlatih baik, seringkali menjadi soloist utama u/ menyanyikan part tenor  dalam paduan suara di suatu gereja besar. Sedangkan Bob, seorang pria muda yang tidak pernah mengikuti kursus menyanyi, kadang-kadang menyanyikan beberapa bagian solo yang lebih pendek. Saat sang pemimpin paduan suara menyiapkan sebuah kantata untuk konser Natal, ia merasa bahwa dengan suara dan gayanya, Bob sangat tepat berperan sebagai solois utama. 

Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyerahkan peran itu kepada Bob tanpa menyinggung perasaan si dosen musik yang lebih senior itu.
Kecemasannya itu ternyata tidak beralasan. Ternyata si dosen musik itu berpikiran sama dengannya, dan ia mengatakan kepada pemimpin paduan suara itu bahwa Bob-lah yang lebih baik untuk menjadi solois utama. Si dosen tetap bergabung dalam kelompok paduan suara dan ia pun terus memberikan dukungan besar bagi Bob.
 
Orang yang dapat mengesampingkan ambisi pribadinya dan dengan tulus berusaha melakukan hal terbaik untuk orang lain adalah tindakan yang menyenangkan hati Allah. Ingatkah Anda bagaimana reaksi Yohanes Pembaptis saat orang banyak meninggalkannya dan mulai mengikut Yesus? Ia berkata: "Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil" (Yoh. 3:30).
 
Apa persamaan antara Yohanes Pembaptis dan si dosen musik ini? Mereka sanggup mengesampingkan "ambisi pribadinya". Mereka berdua senang melihat orang lain dimuliakan melebihi mereka ketika hal itu dilakukan untuk kebaikan bersama. Dapatkah orang lain juga menilai kita demikian? 

Saat kita melupakan kepentingan diri sendiri, kita melakukan hal yang jauh lebih penting yang akan diingat orang.

Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati :)